Etika Deontologi vs Utilitarianisme: Cara Memilih Sudut Pandang

Buku etika terbuka dengan catatan tangan di meja perpustakaan kayu

Etika deontologi dan utilitarianisme sama-sama dipakai untuk menjawab pertanyaan “apakah tindakan ini benar”, tetapi keduanya menilai dari sisi yang berbeda. Deontologi melihat kesesuaian tindakan dengan kewajiban, sedangkan utilitarianisme melihat akibat yang dihasilkan. Memilih di antara keduanya berarti memutuskan apa yang lebih dulu dipertimbangkan: aturan atau hasil.

Perbandingan ini berguna saat kamu menghadapi kasus moral yang tidak punya jawaban jelas, misalnya apakah boleh berbohong untuk menyelamatkan seseorang. Teori yang kamu pakai menentukan kesimpulan yang kamu capai.

Apa yang dinilai deontologi

Deontologi menempatkan kewajiban sebagai dasar penilaian. Suatu tindakan benar bila sesuai dengan aturan moral yang berlaku, terlepas dari hasilnya baik atau buruk. Immanuel Kant adalah rujukan paling sering dipakai: ia berargumen bahwa berbohong selalu salah karena melanggar prinsip kejujuran, meski kebohongan itu menyelamatkan nyawa.

Kekuatan pendekatan ini terletak pada kepastiannya. Aturan memberi pegangan yang tidak berubah ketika situasi berubah. Kamu tidak perlu menghitung untung rugi setiap kali mengambil keputusan. Bagi orang yang bekerja di bidang dengan tanggung jawab besar, misalnya tenaga medis atau hakim, aturan yang tegas mencegah keputusan diambil berdasarkan perkiraan yang belum pasti.

Kelemahannya muncul ketika aturan bertabrakan. Menepati janji dan menolong orang dalam bahaya sama-sama kewajiban, dan kadang keduanya tidak bisa dipenuhi sekaligus. Deontologi ketat tidak punya prosedur baku untuk menyelesaikan benturan semacam ini. Selain itu, menolak melihat akibat membuat teori ini terasa kaku ketika satu keputusan kecil bisa mencegah kerugian besar.

Apa yang dinilai utilitarianisme

Utilitarianisme menilai tindakan dari jumlah kebahagiaan atau kesejahteraan yang dihasilkannya. Tindakan benar bila memberi manfaat terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Jeremy Bentham dan John Stuart Mill adalah dua nama yang paling sering dirujuk, dengan Mill menambahkan pembedaan antara kesenangan kualitas rendah dan tinggi.

Pendekatan ini lentur terhadap konteks. Keputusan yang tepat di satu situasi bisa berbeda di situasi lain karena jumlah dan besarnya akibat berubah. Utilitarianisme juga memaksa pengambil keputusan mempertimbangkan orang lain di luar lingkaran terdekatnya, karena setiap dampak ikut dihitung.

Masalahnya ada pada perhitungan itu sendiri. Sulit membandingkan kesejahteraan satu orang dengan orang lain secara objektif, dan dampak jangka panjang sering tidak bisa diperkirakan. Teori ini juga menghadapi kritik klasik: bila menyiksa satu orang bisa membahagiakan banyak orang, apakah tindakan itu dibenarkan? Sebagian pembela utilitarianisme menjawab dengan aturan turunan, tetapi jawaban itu mendekatkan teori ini kembali ke deontologi.

Perbandingan langsung pada satu kasus

Ambil contoh klasik: seorang dokter punya lima pasien yang butuh transplantasi organ dan satu pasien sehat di ruang tunggu. Deontologi menolak membunuh pasien sehat karena melanggar kewajiban tidak mencabut nyawa, apa pun hasilnya. Utilitarianisme menghadapi dilema: secara hitungan angka, menyelamatkan lima nyawa terlihat lebih baik, tetapi keputusan itu meruntuhkan kepercayaan publik pada rumah sakit.

Perhatikan bahwa utilitarianisme di sini tidak otomatis membenarkan pembunuhan. Ketika dampak jangka panjang ikut dihitung, kerugian kepercayaan bisa lebih besar daripada keuntungan lima nyawa. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua teori jarang menghasilkan kesimpulan yang benar-benar berlawanan ketika dipakai dengan hati-hati.

Aspek Deontologi Utilitarianisme
Dasar penilaian Kesesuaian dengan kewajiban Akibat yang dihasilkan
Kepastian aturan Tinggi Rendah, bergantung konteks
Kepekaan terhadap situasi Rendah Tinggi
Kelemahan utama Kaku saat aturan bertabrakan Sulit menghitung dan membandingkan dampak

Cara memilih sudut pandang untuk diskusi

Pilihan teori sebaiknya mengikuti jenis pertanyaan yang ingin dijawab, bukan selera pribadi. Beberapa patokan yang bisa dipakai:

  • Pakai deontologi ketika kasus menyangkut hak individu yang tidak boleh dikorbankan, misalnya persetujuan pasien atau kebebasan berbicara.
  • Pakai utilitarianisme ketika kebijakan menyangkut alokasi sumber daya terbatas, misalnya anggaran kesehatan atau kuota penerimaan mahasiswa.
  • Pakai keduanya untuk menguji apakah kesimpulan yang kamu capai bertahan ketika dinilai dari sisi lain. Kesimpulan yang sama dari dua arah biasanya lebih kuat.

Dalam forum diskusi, membandingkan dua teori pada satu kasus biasanya lebih produktif daripada mempertahankan satu teori sampai habis. Kamu bisa memakai langkah-langkah dalam panduan menganalisis argumen filsafat untuk memeriksa apakah alasan yang dipakai benar-benar mendukung kesimpulan, bukan hanya terdengar meyakinkan.

Menentukan posisi sebelum berdebat

Tentukan lebih dulu apakah kamu ingin mempertahankan aturan atau menimbang hasil. Setelah itu, cari satu kasus sulit yang membuat posisimu goyah. Kemampuan mempertahankan posisi di titik terlemahnya jauh lebih menentukan daripada hafalan nama tokoh. Jika kamu sedang menyusun sesi diskusi kelompok, cara memilih topik diskusi filsafat yang seru bisa membantu memilih kasus yang memancing perbedaan pendapat.

Etika terapan di luar ruang kelas

Teori moral tidak berhenti di mata kuliah. Etika kedokteran memakai prinsip otonomi pasien yang berakar pada deontologi, sementara kebijakan publik sering memakai perhitungan manfaat dan biaya yang bernuansa utilitarian. Bahkan industri hiburan punya pembahasan serupa, misalnya soal tanggung jawab penulis terhadap dampak cerita yang mereka tulis, seperti yang muncul dalam pembahasan tentang penulis komik superhero yang layak dibaca dan cara mereka menggambarkan kekuasaan.

Bagi mahasiswa yang aktif di organisasi, dilema semacam ini muncul dalam bentuk yang lebih praktis, misalnya membagi anggaran kegiatan atau menentukan prioritas acara. Kebiasaan menimbang aturan dan akibat di ruang diskusi terbawa ke pengambilan keputusan sehari-hari, termasuk saat harus membagi waktu kuliah dan organisasi tanpa keteteran.

Kedua teori ini tidak perlu dipilih sekali untuk selamanya. Yang lebih penting adalah tahu alasan di balik pilihanmu dan siap menjelaskannya ketika diuji.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah deontologi selalu menolak mempertimbangkan akibat?

Versi ketat menolak, tetapi banyak pembaca modern memakai deontologi yang lebih longgar. Mereka tetap berpegang pada kewajiban sebagai dasar, sambil mengakui bahwa akibat perlu dilihat untuk menentukan bagaimana kewajiban diterapkan dalam situasi tertentu.

Bisakah utilitarianisme membenarkan pengorbanan satu orang demi banyak orang?

Dalam bentuk paling sederhana, ya, dan itulah kritik utamanya. Namun utilitarianisme modern biasanya memasukkan dampak jangka panjang dan aturan umum ke dalam perhitungan, sehingga kesimpulannya tidak selalu sesederhana itu.

Teori mana yang lebih cocok untuk mahasiswa baru?

Mulai dari utilitarianisme karena logikanya mudah diikuti, lalu pindah ke deontologi untuk melihat sisi yang tidak tertangkap oleh perhitungan akibat. Membaca keduanya secara berurutan membuat kelemahan masing-masing lebih terlihat.